Pasukan Cadangan Militer

 Tentara Cadangan Bersiap Bertahan
DIBESARKAN di Jepang, Yusuke Tsuge tidak pernah membayangkan dia akan berlari-lari dalam seragam militer dan menyandang senapan di sebuah negara yang tidak pernah terlibat dalam konflik bersenjata sejak kekalahannya dalam Perang Dunia II.
Namun, pada sebuah hari cerah belum lama ini, Tsuge, seorang editor majalah, termasuk di antara 42 orang Jepang yang ambil bagian dalam pelatihan untuk bergabung dalam pasukan cadangan militer. Dalam pasukan cadangan itu orang sipil dengan pekerjaan tetap bersiaga membantu militer kala dimobilisasi untuk membela negara.
Berdasarkan kebijakan pertahanan pascaperang, Jepang tidak pernah mengerahkan pasukan cadangannya. Pasukan itu dibentuk tahun 1954 dan kini berkekuatan 39.500 orang.
Bahkan, militernya, yang secara resmi disebut Pasukan Bela Diri (SDF), tidak pernah teruji dalam pertempuran. Konstitusi pasifis Jepang melarang pemeliharaan sebuah militer walau kemudian memperbolehkan angkatan bersenjata untuk membela diri.
Setelah memberikan hormat kepada bendera kebangsaan seusai latihan baris-berbaris dini hari, Tsuge dan para peserta pelatihan, yang mengenakan seragam dan topi baja hijau, menyelempangkan senapan mereka di bahu. Mereka berbaris ke sebuah lapangan untuk mempraktikkan pengintaian dan menangkap tentara musuh dengan todongan senjata.
Sebagai anggota tentara cadangan tanpa pengalaman militer, Tsuge tidak akan ambil bagian dalam pertahanan garis depan. Namun, dia masih bisa dipanggil untuk menjaga pos-pos tentara di dalam negeri atau untuk mengirim pasokan. Dia juga bisa dikirim untuk membantu SDF dalam tugas penyelamatan untuk gempa bumi, banjir, dan bencana lain.
”Saya biasanya bekerja dalam pakaian sipil. Karena itu, ketika saya datang untuk pelatihan, mengenakan seragam dan memegang senapan, saya merasakan sebuah tekad untuk melaksanakan tugas saya,” kata Tsuge.
Pria berusia 33 tahun itu awalnya bekerja sebagai salesman mobil sebelum minat terhadap mesin-mesin tank membawanya bekerja pada sebuah majalah militer di Kamp Takeyama SDF di Yokosuka, 45 km sebelah barat daya Tokyo.
”Saya sekarang mempunyai keluarga sehingga mempunyai perasaan yang lebih kuat ingin melindungi keluarga dan negara saya,” kata Tsuge yang mempunyai seorang bayi laki-laki.
Bergabung dengan tentara cadangan adalah sukarela di Jepang, tidak seperti di Korea Selatan, Taiwan, atau Israel, yang mewajibkan pemuda ikut wajib militer. Pasukan cadangan Jepang baru 10 tahun membuka pintu untuk warga negara biasa. Walau sebagian besar adalah mantan personel SDF, jumlah pelamar terus meningkat dalam tahun- tahun terakhir.

(Sumber: Kompas)