Penanganan Hama Ulat Bulu Dengan Mengedepankan Upaya Biologis

 Basmi Ulat Tak Harus pakai Zat Kimia
DENPASAR,  — Serangan ulat bulu di berbagai wilayah di Indonesia semakin meluas. Banyak cara dilakukan warga atau dinas pertanian setempat untuk membasmi hama pemakan daun ini. Kebanyakan ulat bulu dibasmi menggunakan cara instan, yakni disemprot cairan pestisida yang mengandung zat kimia.

Namun, di berbagai kasus, semprotan pestisida ini tak cukup ampuh dan ulat bulu kembali muncul dengan leluasa menyerang tanaman. Dinas Pertanian Tanaman Provinsi Bali pun kini perlahan mengubah pola penanganan hama ulat bulu dengan mengedepankan upaya biologis, yakni mengembalikan keseimbangan ekosistem alami setempat.
"Kami lihat dulu keseimbangan antara ulat bulu dan predatornya. Jika predator sedikit, kami upayakan menambah," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Made Putra Suryawan di Denpasar, Jumat (15/4/2011). Dari pengamatan di lapangan, predator pemangsa ulat bulu kini mulai hilang karena beberapa faktor, di antaranya eksploitasi berlebihan.

"Sekarang semut rangrang banyak yang diambil telurnya untuk makanan burung, sementara burung-burung pemakan ulat juga banyak yang ditangkap. Burung pemakan ulat populasinya semakin kecil berarti ekosistem yang ada di alam ini sudah mulai terganggu," kata Suryawan.

Predator ulat bulu yang telah diketahui efektif mengendalikan populasi ulat bulu adalah burung crukcuk dan semut rangrang. Untuk menyeimbangkan populasi predator dengan ulat bulu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Bali telah mengeluarkan surat rekomendasi kepada seluruh bupati dan dinas pertanian kabupaten/kota se-Bali."Pertama, masyarakat jangan panik dan risau sehingga menebang tanaman atau pohon secara berlebihan dan hindari kontak dengan ulat bulu karena dapat menimbulkan gatal. Kedua, hentikan penangkapan dan atau perburuan burung pemakan ulat. Ketiga, hentikan pula perilaku menangkap telur semut rangrang," tutur Suryawan. 
(Sumber: Kompas)